SEKITARKITA.id– Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kian mengkhawatirkan.
Hingga Jumat (26/9/2025), jumlah korban di Kecamatan Cipongkor telah mencapai 730 siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Pantauan SEKITARKITA.id dilokasi, menunjukkan korban terus berdatangan ke posko darurat yang didirikan di GOR Kecamatan Cipongkor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana panik tampak jelas, sejumlah siswa menangis kesakitan, sementara para orang tua berupaya menenangkan anak-anak mereka dengan wajah penuh kecemasan.
Korban keracunan MBG di GOR Kecamatan Cipongkor KBB, Jumat 26 September 2025 (foto: Abdul Kholilulloh)
Beberapa korban dilaporkan mengalami sesak napas hingga kejang-kejang, sehingga harus mendapatkan penanganan intensif.
Encep (46), warga Cipongkor, mengaku anaknya yang bersekolah di SMKN Pembangunan sudah lima hari dirawat di posko darurat. Ia menyebut sang anak hanya memakan sedikit menu MBG berupa daging ayam, melon, dan tomat, sebelum akhirnya mengalami sakit hebat.
“Anak saya sudah lima hari di sini (posko darurat). Dia cuma mencicipi sedikit daging ayam, melon, dan tomat, tapi malah seperti ini kejadiannya. Saya tidak tega lihat anak saya kesakitan,” tutur Encep dengan suara gemetar.
Hal senada dialami oleh Cucu Aidah (46), orang tua dari Tiara (8), siswi kelas 3 SD Sirnagalih. Menurutnya, anaknya hanya memakan buah melon dari menu MBG, tetapi tak lama kemudian langsung mengeluh sakit perut hebat dan muntah-muntah.
“Anak saya hanya makan melon saja, tapi langsung kesakitan dan muntah. Dia harus dirawat sampai tiga hari di posko darurat,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Hingga kini, aparat kesehatan bersama pihak terkait masih berusaha memberikan perawatan darurat kepada ratusan siswa yang terdampak. Namun, belum ada kepastian resmi mengenai penyebab utama keracunan massal tersebut.
Kasus ini menambah panjang daftar korban keracunan massal akibat program MBG di Bandung Barat. Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan investigasi mendalam serta memberikan solusi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







