[ad_1]
SekitarKita.{id} – Bulan Maret lalu, saya merasakan hari yang berat di pekerjaan saya sebelumnya. Anda tahu, suatu hari nanti ketika proyek terus berdatangan serta Anda tenggelam dalam lautan prioritas,
sepertinya tidak percaya bagaimana secara manusiawi mungkin saja untuk berenang ke pantai. Ya, salah satunya tersebut hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku kumpul dengan punggung menghadap kursi, kekuatan ganda adalah kemarahan serta kecemasan mendidih di dadaku. Rahangku mengatup serta wajahku menjadi hangat.
Saya tahu saya harus segera menundukkan kepala serta bekerja semasih beberapa jam, namun saya sepertinya tidak bisa berkonsentrasi.
Entah dari mana, saya menerima pesan dari rekan kerja yang jarang saya ajak bicara. Saya menguatkan diri, berpikir tersebut mungkin saja permintaan “mendesak” lainnya.
Sebaliknya: “Hai Brina, saya mengerti betapa banyaknya tugas yang Anda emban. Saya hanya ingin menjangkau serta mengirimi Anda begitu banyak sekali cinta serta dukungan!”
Saya menghela napas. Lalu tersenyum. Pesan kolega saya begitu manis serta sepertinya tidak terduga, serta meski demikian dia sepertinya tidak mampu mengurangi beban kerja saya, fakta bahwa dia mengulurkan tangan membuat suasana hati saya minim lebih ringan.
Saya lihat kembali pesannya sejauh minggu tersebut, setiap kali saya merasa terdorong oleh dorongannya.
Sejauh tahun lalu, saya menerima kata-kata penyemangat serta pujian serupa. Ada yang berkaitan dengan pekerjaan, ada pula yang berkaitan dengan tulisan, juga ada pula yang sekadar pesan penghargaan yang tulus.
Lihat ke belakang, potongan-potongan kecil cinta ini – ada yang besar, ada yang kecil – sepanjang waktu ada. Tetapi saya baru mulai mengapresiasinya pada tahun lalu, suatu tahun yang sangat sulit.
Saya membuat keputusan untuk mendatanya pesan-pesan ini di suatu tempat yang bisa saya kunjungi secara tertata.
Sebuah map kecil tempat mereka semua dapat tinggal, siap membangkitkan semangat saya setelah penolakan atau pada hari yang terasa seperti sepertinya tidak akan pernah berakhir.
Jadi, saya melakukan hal tersebut.
Saya sekarang mempunyai album “Kebaikan” di ponsel saya, dengan tangkapan layar yang saya simpan dari pesan Slack, teks, electronic mail, serta DM Instagram.
Saya dan mempunyai album “Medium and Substack Kindness” di pc saya, tempat saya mendatanya pesan-pesan manis dari pembaca yang pernah berkorespondensi dengan saya.
Sesekali, aku membalik-baliknya serta hatiku mengembang sehingga banyak sekali kegembiraan serta rasa syukur.
Saya berpikir dalam hati, Bagaimana saya dapat seberuntung tersebut?! Ini ajaib serta menular, membuat saya ingin menyebarkan minim keceriaan kepada orang lain sebagai balasannya.
Ini dapat hal itu dianggap sebagai praktik syukur, yang mana segudang observasi ilmiah telah memuji manfaatnya bagi kesejahteraan fisik serta emosional kita.
Juga secara anekdot, sepertinya menyenangkan untuk beralih dari ruang kepala yang gelap serta negatif ke ruang yang lebih bebas serta lebih terang.
Di dunia yang sepanjang waktu mengingatkan kita segera akan kekurangan kita, kita harus segera menerima kelimpahan yang tersedia sementara itu, sementara itu.
Sangat mudah untuk terjebak dalam apa yang salah atau masalah selanjutnya yang harus segera kita selesaikan.
Atau bahkan merasa usaha kita sepertinya tidak berarti apa-apa. Tetapi penting untuk mengingat berapa jumlahnya sudah berjalan dengan baik – betapa kita dihargai sebagaimana adanya.
Ketika kita meluangkan waktu untuk mengakui betapa kita berarti bagi orang lain atau perbedaan yang telah kita buat dalam hidup mereka,
hal ini bisa memberi kita energi ekstra untuk melompati rintangan yang tak terelakkan. Juga tersebut cukup ampuh.
Brina Patel yaitu seorang penulis dari California Utara. Karyanya telah muncul di beberapa outlet, antara lain Neatly+Excellent, Verywell Thoughts, Industry Insider, serta Metro.
[ad_2]
Sumber: yourtango








