SEKITARKITA.id– Puncak perayaan Milangkala ke-57 Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, berlangsung meriah pada Minggu (31/8/2025).
Acara dimeriahkan dengan beragam lomba, pentas seni, serta penampilan budaya khas Sunda yaitu tradisi Ngakeul (prosesi menanak nasi secara tradisional) yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Desa Tanimulya, Omin Efendi, dalam sambutannya menggunakan bahasa Sunda menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada panitia serta seluruh warga yang ikut berpartisipasi hingga acara berjalan lancar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Milangkala ke-57 ini adalah momen penting untuk mengenang jasa para leluhur dan tokoh masyarakat yang telah mendirikan serta membangun desa ini sejak awal. Kita tidak boleh lupa menghargai perjuangan mereka demi kemajuan dan kesejahteraan desa,” ujar Omin.
Sementara itu, Sekdes Tani Mulya, Ian Sopian menambahkan, perayaan Milangkala juga menjadi ajang mempererat silaturahmi, memperbaiki perilaku, serta memperkuat kebersamaan warga.
“Ia pun berpesan khusus kepada generasi muda agar tetap menjaga identitas budaya lokal meski harus beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
“Dengan acara Festival Ngakeul ini Desa Tani Mulya mendapatkan sertifikat dari Kementerian Pariwisata katagori pengetahuan tradisional warisan budaya tak benda (WBTB),” sambungnya.
“Milangkala Desa Tani Mulya ini dengan tema Ngaguar ku Sejarah, Nyaangan ku Agama, Ngamumule ku Budaya (menggali sejarah di barengi dengan agama dipertahankan dengan budaya),” tandasnya.
Mengenal Tradisi Ngakeul
Ngakeul adalah tradisi Sunda dalam tahap akhir proses menanak nasi secara tradisional. Nasi yang baru matang dipindahkan dari dandang ke wadah boboko atau dulang, kemudian dibalik-balik dengan cukil (centong kayu) sambil dikipasi dengan hihid (kipas tradisional).
Tujuannya untuk menghilangkan uap panas sehingga nasi menjadi lebih empuk, pulen, dan tidak menggumpal.
Selain itu, uap nasi yang mengenai kulit dipercaya memiliki manfaat kesehatan karena mengandung vitamin dan mineral alami.
Sayangnya, seiring berkembangnya teknologi, tradisi Ngakeul mulai jarang dilakukan karena digantikan oleh alat modern seperti rice cooker.
Padahal, bagi masyarakat Sunda, rasa dan sensasi nasi hasil Ngakeul diyakini memiliki kenikmatan tersendiri yang tidak tergantikan.
Alat yang Digunakan dalam Ngakeul
Untuk melakukan Ngakeul, ada tiga peralatan utama yang dipakai, yaitu:
1. Boboko/Dulang – wadah nasi tradisional dari anyaman bambu.
2. Cukil/Centong – sendok kayu besar untuk membalik nasi.
3. Hihid – kipas tradisional untuk mengurangi uap panas.
Filosofi dalam Tradisi Ngakeul
Teknik Ngakeul tidak hanya sekadar membalik nasi, tetapi juga mengandung filosofi kebersamaan. Kedua tangan harus bekerja selaras—satu membalik nasi, satu lagi mengipas—yang melambangkan kesatuan dan gotong royong.
Perayaan Milangkala ke-57 Desa Tanimulya bukan hanya pesta rakyat, tetapi juga wujud nyata gotong royong, pelestarian budaya, dan kebersamaan warga.
Dengan ditampilkannya tradisi Ngakeul, acara ini menjadi sarana edukasi sekaligus ajang menjaga warisan budaya Sunda di tengah modernisasi.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







