AdinJavaNiat tulus dari sebelas kepala sekolah di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, untuk meningkatkan fasilitas sekolah mereka berujung pada kekecewaan dan kesedihan. Harapan untuk dapatkan bantuan danaCompany Social AccountabilityPerusahaan Tanggung Jawab Sosial (CSR) berubah menjadi berita buruk. Dana pribadi yang telah terkumpul ratusan juta rupiah hilang tanpa jejak, diduga dibawa oleh seseorang yang dikenalkan oleh pejabat pendidikan Kecamatan Pangatikan.
{Peristiwa} yang merusak dunia pendidikan ini dijelaskan secara terang olehAn An Setianah, Kepala Sekolah SDN 2 Cihuni, yang juga termasuk salah satu penderita dengan kerugian paling besar.
Asal Usul Keterikatan “Bantuan” CSR
Perkara ini berawal pada Desember 2024. Pada ketika itu, Kepala Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Pangatikan,Entis Sutisna, S.Pd., M.Pd., mempromosikan seseorang berinisial Amerika Serikat, warga Kadungora, kepada puluhan kepala sekolah dari tingkat PAUD mencapai SD Negeri di Pangatikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan yang dilaksanakan di Gedung PGRI Pangatikan menjadi awal dari kejatuhan. Di depan para kepala sekolah, Amerika Serikat meyakinkan bahwa dirinya mampu mengalirkan dana CSR besar untuk renovasi dan pembangunan fasilitas sekolah di kawasan tersebut.
“Pertemuan awal dengan Amerika Serikat terjadi pada Desember 2024. Saudara Amerika Serikat yang diantar oleh Kepala Korwil menawarkan bantuan CSR. Korwil juga mengendalikan beberapa pertemuan di Gedung PGRI Pangatikan untuk membahas dana bantuan tersebut,” ujar An An Setianah.
Modus yang Memakai Uang sebagai Alat Pemikat dan Pejabat
Setelah pertemuan awal, Amerika Serikat mulai melakukan tindakannya. Kepada An An Setianah, Amerika Serikat terus-menerus meminta sejumlah uang dengan berbagai alasan yang semakin lama semakin tidak logis. Permintaan uang ini disebut sebagai ‘biaya administrasi’ agar dana CSR secepatnya cair.
Metode yang digunakan mencakup biaya notaris, bimbingan teknis (bimtek), dan jasa konsultan. Bahkan, Amerika Serikat berani meminta uang dengan alasan yang lebih sensitif:untuk mempermudah proyek kepada Kepala Dinas Pendidikan Garut, Bapak Sekda, mencapai bagian kepegawaian di lingkungan Dinas Pendidikan Garut.Permintaan uang ini umumnya dilakukan melalui panggilan telepon.
Air mata dalam Podcast dan Kerugian Ratusan Juta
Cerita menyedihkan ini berlimpah di salah satupodcastMedia Garut 60 Detik. Dengan air mata yang mengalir, An An Setianah menceritakan rasa sedih dan kekecewaannya. Ia mengingat bagaimana kesulitan dalam hal uang yang dialaminya saat Lebaran sebab uang hasil kerja kerasnya dan suaminya hilang akibat penipuan Amerika Serikat.
Hampir setiap hari Saudara Amerika Serikat meminta sejumlah uang dari saya. Sekarang jumlahnya sudah hinggaRp185 juta,” kata An An Setianah dengan nada sedih, memperlihatkan besarnya kerugian yang harus segera ia alami sendiri sebab harapan palsu keterkaitan renovasi sekolah.
Pertanyaan Penting bagi Pejabat Pendidikan
Perkara ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai peran Kepala Korwil Pangatikan, Entis Sutisna. Kekecewaan An An Setianah tidak hanya ditujukan pada Amerika Serikat, namun juga pada Kepala Korwil yang telah mempromosikan dan mengenalkan Amerika Serikat kepada para kepala sekolah sebagai pihak yang bisa dipercaya dalam mengelola CSR.
Mengapa Kepala Korwil Pangatikan membawa Amerika Serikat ke Pangatikan dan memperkenalkannya kepada 12 kepala sekolah, bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menangani bantuan CSR? Korwil juga mengendalikan beberapa pertemuan di Gedung PGRI Pangatikan. Bahkan,penyerahan uang dilakukan dalam pertemuan di Gedung PGRI Pangatikan dan disaksikan oleh Kepala Korwil Pangatikantegas An An, menuntut pertanggungjawaban etis dan ethical.
Sikap Dinas Pendidikan Kabupaten Garut: ‘Kendala Pribadi’
Merupakan tanggapan atas kejadian memalukan ini, Kepala Dinas Pendidikan Garut,Asep Wawan Budiman, untuk memilih untuk menjaga jarak. Ketika ditanya, ia memastikan bahwa kasus ini sepenuhnya merupakan urusan pribadi, bukan masalah profesional.
Itu urusan pribadi. Andai memang ada yang merasa dirugikan, laporkan saja kepada aparat hukum. Jangan mencapai dibiarkan agar pelakunya tak berani lagi, tegas Asep Wawan Budiman.
Kasus Jadi Sorotan Publik
Kasus dugaan penipuan dengan modus bantuan CSR kini menjadisorotan publikdi Garut. Masyarakat meragukan peran pengawasan dan tanggung jawab etis pejabat pendidikan yang menghubungkan pihak luar dengan para kepala sekolah tanpa prosedur resmi.
Beberapa pengamat pendidikan menganggap, kejadian ini merusak dunia pendidikan sebab memperlihatkan ketidakmampuan dalam melindungi tenaga pengajar di lapangan.
“Guru dan kepala sekolah seharusnya memperhatikan pendidikan, bukan menjadi penderita janji palsu dengan alasan bantuan,” ujar seorang aktivis pendidikan Garut yang tidak ingin disebut namanya.
Harapan Keadilan
An An Setianah berkeinginan untuk melaporkanAmerika Serikat ke pihak kepolisian, dengan dugaan penipuan program dana CSRIa mengharapkan tindakannya mampu membuka mata dengan jumlah besar pihak dengan begitu tak ada lagi kepala sekolah yang tertipu dengan alasan niat baik.
“Saya hanya menginginkan keadilan. Jangan mencapai ada lagi orang yang merasakan nasib seperti saya,” ungkapnya dengan lembut.***








