SEKITARKITA.id – Menjelang pelaksanaan Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026 yang akan berlangsung pada 7 hingga 20 November mendatang, kontingen National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menghadapi tantangan besar.
Di tengah semangat meraih prestasi, para atlet difabel dan pengurus NPCI KBB harus menjalani persiapan secara swadaya akibat belum adanya kepastian pencairan dana hibah dari pemerintah daerah.
Wakil Sekretaris NPCI KBB, Acep Kurnia, mengungkapkan hingga pertengahan Juni 2026, pihaknya belum menerima kepastian terkait besaran anggaran hibah yang akan diberikan untuk persiapan menuju Peparda Jabar 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kondisi ini memaksa seluruh proses persiapan berjalan secara swadaya, berbasis pinjaman dan gotong royong, padahal NPCI KBB tidak memiliki fasilitas latihan sendiri,” ujar Acep saat dihubungi, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, para atlet NPCI KBB telah menjalani pemusatan latihan sejak Januari 2026. Namun hingga kini, seluruh kebutuhan operasional masih ditanggung secara mandiri.
“Kami sudah latihan sejak Januari, tapi sampai sekarang belum tahu berapa besar hibah yang akan diterima,” katanya.
Acep menjelaskan, sejumlah cabang olahraga terpaksa menyewa fasilitas latihan di berbagai lokasi, bahkan hingga ke Kota Bandung.
Untuk cabang atletik, latihan dilakukan di Stadion Pajajaran Bandung. Sementara cabang judo menyewa tempat latihan di kawasan Jalan Emong, sedangkan cabang bowling harus berlatih di Arena Siliwangi dengan biaya sewa yang cukup tinggi.
“Untuk cabang bowling saja, biaya sewa satu lintasan mencapai Rp200 ribu per jam, sedangkan dalam satu sesi latihan bisa menggunakan enam hingga tujuh lintasan,” ungkapnya.
Selain biaya sewa tempat latihan, NPCI KBB juga harus menanggung biaya transportasi atlet yang berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Bandung Barat, seperti Rajamandala, Cililin, dan Cipongkor.
Untuk menutupi kebutuhan tersebut, pengurus terpaksa mencari dana talangan, meminjam kepada pihak ketiga, hingga mengandalkan iuran dari pengurus dan orang tua atlet.
“Bahkan Ketua NPCI KBB turut mengeluarkan biaya pribadi hingga menjual kendaraan untuk menutupi kekurangan sementara,” ujar Acep.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, atlet NPCI KBB tetap mampu menorehkan prestasi membanggakan di level internasional.
Salah satu atlet andalan NPCI KBB, Jaenal Aripin, berhasil meraih medali emas pada Kejuaraan Paralimpik Maroko pada April 2026 dan menyabet medali perak pada ajang Grand Prix Para Athletics Tunisia 2026 pada Mei lalu.
“Di Tunisia, Jaenal hanya kalah dari juara dunia asal Portugal,” katanya.
Pada ajang Peparda VII Jawa Barat 2026, NPCI KBB menargetkan mengirimkan sekitar 80 atlet yang akan bertanding di 12 cabang olahraga dari total 17 cabang yang dipertandingkan.
Acep memperkirakan kebutuhan anggaran untuk persiapan hingga pelaksanaan Peparda mencapai sedikitnya Rp2 miliar.
Anggaran tersebut mencakup biaya transportasi, sewa tempat latihan, pengadaan peralatan, seragam kontingen, hingga kebutuhan selama pertandingan berlangsung.
Selain itu, hingga saat ini NPCI KBB juga belum mendapatkan kepastian terkait bonus prestasi bagi atlet peraih medali.
“Kami berharap ada kepastian segera, baik soal pencairan hibah maupun kepastian bonus. Ini bukan soal materi semata, tetapi untuk menjaga semangat dan menghargai pengorbanan atlet yang sudah berjuang jauh-jauh hari,” tegasnya.
Acep menilai kepastian anggaran dan bonus menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan prestasi atlet difabel.
“Di daerah lain seperti Kabupaten Bogor, anggaran hibah dan bonus sudah jelas dan besar sehingga menjadi pendorong prestasi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Acep menyebut batas akhir pendaftaran kontingen Peparda VII Jawa Barat ditetapkan pada 29 hingga 30 Juni 2026.
Dengan waktu yang tersisa sekitar 11 hari, NPCI KBB berharap pemerintah daerah segera memberikan kepastian terkait dukungan anggaran agar kontingen Kabupaten Bandung Barat dapat tampil maksimal di ajang olahraga terbesar bagi atlet difabel di Jawa Barat tersebut.
Tanpa dukungan anggaran yang memadai, NPCI KBB khawatir tidak dapat mengirimkan kontingen sesuai target yang telah disusun.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








