KBB | SEKITARKITA.id – Kisah perjuangan anak sekolah di Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), untuk menuntut ilmu menjadi sorotan publik.
Setiap hari, sejumlah siswa SD hingga SMP harus menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu untuk menuju sekolah.
Video aktivitas para pelajar tersebut viral di media sosial setelah diunggah akun Instagram @official_desabudiharja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam video itu, terlihat sejumlah siswa dan siswi menaiki rakit untuk menyeberangi perairan setelah pulang sekolah.
“Potret perjuangan pendidikan di Desa Budiharja. Setiap hari sejumlah anak SD dan SMP harus menyeberangi sungai untuk bisa sampai ke sekolah mereka,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Saat ditemui, Ketua RT 05 Kampung Sadang, Agus Sumpena, mengatakan aktivitas penyeberangan menggunakan rakit sudah menjadi rutinitas bagi warga, termasuk anak-anak sekolah.
Menurutnya, jarak antara Kampung Sadang menuju Kampung Gombong, Desa Budiharja, sebenarnya hanya sekitar 250 meter jika ditempuh melalui jalur penyeberangan. Namun, warga hanya memiliki satu rakit berukuran besar yang dapat digunakan untuk mengangkut banyak orang.
“Iya saya setiap hari menyeberangkan mereka menggunakan rakit. Kalau berangkatnya sekitar pukul 06.00 WIB, nanti pulangnya balik lagi ke sini untuk menjemput mereka,” kata Agus saat ditemui, Jumat (28/8/2026).
Agus mengungkapkan, tradisi anak sekolah menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit telah berlangsung sejak sekitar 1990.
Pada awalnya, anak-anak diantar oleh orang tua masing-masing. Namun, karena kebutuhan penyeberangan terus berlangsung, pihak sekolah kemudian membuat rakit umum yang dapat digunakan para siswa.
Satu kali perjalanan, rakit berukuran besar tersebut mampu membawa sekitar 15 hingga 20 anak.
Tak hanya untuk keperluan sekolah, rakit juga menjadi akses penting bagi warga Kampung Sadang. Sebagian warga menggunakannya untuk menuju kebun hingga membawa hasil kerajinan tangan berbahan bambu.
“Selain anak sekolah, ini juga akses tercepat bagi warga Kampung Sadang yang sehari-hari bekerja sebagai perajin bambu. Sebagian lainnya bekerja sebagai petani,” ujarnya.
Agus berharap pemerintah dapat membangun jembatan yang menghubungkan Kampung Sadang dengan Kampung Gombong. Menurutnya, keberadaan jembatan akan sangat membantu aktivitas warga, terutama anak-anak yang setiap hari pergi ke sekolah.
“Harapannya agar dibuatkan jembatan. Kalau ada jembatan, ini enak untuk penyeberangan, khususnya anak sekolah,” katanya.
Belasan Siswa SD Masih Bergantung pada Rakit
Kepala SD Negeri Budiharja, Kecamatan Cililin, Taufik, mengatakan saat ini terdapat sedikitnya 16 siswa yang masih menggunakan rakit untuk menuju sekolah.
Mereka terdiri dari tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5 dan tiga siswa kelas 6.
Taufik berharap pembangunan jembatan penyeberangan dapat segera direalisasikan. Menurutnya, keberadaan jembatan akan mempersingkat perjalanan sekaligus memberikan akses yang lebih aman dan mudah bagi para siswa.
“Untuk mempersingkat perjalanan anak-anak tersebut dan menjaga semangat untuk sekolah, saya mohon ada jembatan penyeberangan supaya mempercepat dan mempermudah anak-anak ke sekolah,” kata Taufik.
Ia menjelaskan, apabila menggunakan jalur darat, siswa dari Kampung Sadang harus menempuh jarak hampir empat kilometer menuju sekolah.
Sementara jika berjalan kaki, waktu perjalanan dapat mencapai sekitar 30 menit.
“Dari dulu, sekitar tahun 1990, sekolah kami sudah membuatkan rakit untuk anak-anak menyeberangi Saguling,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga menjadi kekhawatiran bagi orang tua siswa. Salah satunya Santi Nur Setiani, warga Kampung Sadang.
Santi mengatakan anaknya yang kini duduk di kelas 3 SD harus bersiap sejak sekitar pukul 06.00 WIB untuk menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit.
Biasanya, anaknya diantar oleh Ketua RT karena tidak tersedia sarana transportasi lain yang lebih mudah untuk menuju sekolah.
Menurut Santi, penggunaan rakit tetap dilakukan meskipun hujan deras maupun ketika permukaan perairan dipenuhi tanaman eceng gondok.
Kondisi itu membuat Santi khawatir terhadap keselamatan anak-anak, terutama ketika harus berada di atas rakit saat cuaca buruk.
“Kekhawatiran saya kalau hujan deras, terus eceng gondoknya sedang rapat, anak-anak harus bagaimana?” ujarnya.
Ia mengatakan, jika tidak ada yang mengantar, anak-anak terpaksa memilih jalur darat dengan berjalan kaki memutar. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar setengah jam.
Santi berharap pemerintah dapat merealisasikan pembangunan jembatan penghubung. Dengan begitu, anak-anak di Kampung Sadang tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu untuk bersekolah.
“Saya berharap pembangunan jembatan dapat direalisasikan sehingga anak-anak tidak lagi bergantung pada rakit bambu untuk bersekolah dan warga dapat lebih mudah melakukan aktivitas sehari-hari,” tandasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : video Instagram @official_desabudiharja)







