SEKITARKITA.id– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu keracunan massal. Kali ini belasan siswa SMK di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi korban.
Para siswa tersebut mengalami gejala khas keracunan setelah menyantap menu MBG yang dibagikan pada Senin (22/9/2025) siang. Beberapa jam kemudian, mereka mulai merasakan mual, pusing, hingga muntah.
Data awal mencatat 30 siswa yang terdampak, namun jumlah itu terus melonjak hingga mencapai 75 orang dan masih bertambah setiap menitnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan KBB, dr. Hj. Lia N. Sukandar, menegaskan pihaknya masih melakukan pemantauan intensif di lapangan.
“Sebentar ya, saya sedang update terus datanya, soalnya tiap menit nambah lagi siswa yang keracunan. Awalnya 30 siswa, terus saja sampai sekarang sudah 75. Kalau bisa jangan di-fix-kan datanya, karena sepertinya ini masih akan bertambah,” jelas dr Lia kepada SEKITARKITA.id, Senin malam (22/9/2025).
Dinkes KBB telah mendirikan posko utama di Puskesmas Cipongkor serta posko tambahan di Kantor Kecamatan Cipongkor. Tim medis dari PSC 119, surveilans P2P, dan tenaga kesehatan lainnya bersiaga penuh.
Dari total korban, sebanyak 25 siswa dengan gejala lebih berat—seperti kejang dan sesak napas—sudah dirujuk ke RSUD Cililin untuk mendapatkan penanganan intensif. Sementara sisanya masih bisa ditangani di posko atau puskesmas terdekat.
“Data 75 siswa itu, 25 di antaranya kami rujuk ke RSUD karena ada indikasi kejang, sesak napas, dan lainnya. Sisanya masih bisa ditangani di posko atau puskesmas,” tutur Lia.
Posko Jadi Pusat Skrining
Lia menambahkan, dirinya bersama tim kemungkinan akan bermalam di posko. Selain penanganan darurat, posko difungsikan sebagai pusat skrining untuk menentukan apakah siswa cukup ditangani di tempat atau perlu dirujuk ke rumah sakit.
“Saya kemungkinan akan tidur di posko ini karena posko ini juga dibuat untuk skrining siswa yang terkena dugaan racun, apakah masih bisa ditangani darurat atau perlu penanganan lanjutan,” ujarnya.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih diteliti. Dinkes bersama Puskesmas Cipongkor telah mengambil sampel makanan MBG untuk diperiksa di laboratorium.
Belum bisa dipastikan apakah keracunan berasal dari menu MBG atau faktor lain. Meski begitu, pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik.
“Fokus utama kami saat ini adalah memastikan semua siswa mendapat perawatan terbaik dan mengendalikan kasus agar tidak meluas,” tutup Lia.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








