SEKITARKITA.id – Kenaikan harga plastik yang terjadi pada April 2026 tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga bagian dari dampak gangguan rantai pasok global.
Belakangan diketahui, konflik di Timur Tengah, khususnya perang Israel-Iran, disebut-sebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu lonjakan harga bahan baku plastik dunia.
Ketergantungan industri plastik terhadap minyak bumi dan distribusi internasional membuat harga sangat sensitif terhadap kondisi geopolitik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika jalur distribusi terganggu, efeknya langsung terasa hingga ke pedagang kecil di daerah seperti Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Para pelaku usaha kecil kini menghadapi dilema: menaikkan harga jual atau menanggung kerugian.
Banyak di antaranya akhirnya memilih menaikkan harga karena biaya kemasan terus meningkat.
Salsa (26), pedagang minuman segar, mengaku seluruh jenis kemasan mengalami kenaikan dalam waktu singkat.
“Bukan cuma plastik biasa, cup minuman, sedotan, sampai plastik pembungkus semuanya naik,” ujarnya.
Kondisi ini memaksanya menyesuaikan harga jual. Produk yang sebelumnya dijual Rp10.000 kini naik menjadi Rp12.000 per porsi.
Rincian Harga Plastik Terbaru di Pasaran
Menurut pedagang grosir, kenaikan terjadi merata di hampir semua jenis plastik.
Berikut kisaran harga terbaru per April 2026:
Plastik kiloan (PE/PP): Rp19.000 – Rp22.000/kg
Plastik kresek: Rp15.000 – Rp25.000/pak
Plastik bening besar: Rp20.000 – Rp59.000/pack
Tali rafia: Rp23.000 – Rp25.000/kg
Plastik roll PP: Rp14.000 – Rp112.000
Gelas plastik: Rp23.000 – Rp55.000
Styrofoam: Rp35.000 – Rp55.000
Harga tersebut bervariasi tergantung ukuran, kualitas, dan ketersediaan barang di distributor.
Kenaikan harga plastik tidak berdiri sendiri. Dampaknya merambat ke berbagai sektor usaha, terutama makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai.
Hermansyah (46), pedagang plastik, menilai kondisi ini bisa memicu inflasi skala kecil di tingkat lokal.
“Hampir semua usaha pakai plastik. Kalau harganya naik, pasti harga jual ikut naik,” jelasnya.
Para pelaku usaha berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk mengendalikan harga, baik melalui kebijakan impor bahan baku maupun stabilisasi distribusi.
Selain itu, kondisi ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mulai beralih ke alternatif kemasan yang lebih murah atau ramah lingkungan, meski implementasinya tidak mudah dalam waktu singkat.
Jika tren kenaikan ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga konsumen.
Harga produk yang naik perlahan dapat menekan daya beli masyarakat, terutama pasca periode Lebaran yang biasanya diikuti penurunan konsumsi.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa krisis global dapat berdampak langsung hingga ke level usaha mikro di daerah.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : liputan








