SEKITARKITA.id– Jalan poros kabupaten yang menghubungkan lima desa di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami kerusakan parah.
Informasi yang dihimpun redaksi, jalan sepanjang 5 kilometer yang melintasi Desa Sindangkerta, Cintakarya, Puncaksari, Pasirpogor, dan Cijenuk ini tak pernah tersentuh perbaikan sejak pemekaran wilayah KBB pada 2008.
Kerusakan yang terjadi tak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga mengganggu roda perekonomian desa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tokoh masyarakat KBB wilayah selatan, Yayat Ruhiyat, mengungkapkan bahwa jalan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan dua kecamatan, yaitu Sindangkerta dan Cipongkor.
Ia menyayangkan minimnya perhatian dari pemerintah daerah meski kondisi jalan sudah sangat memprihatinkan.
“Setiap hari kami harus melewati jalan rusak ini. Kalau musim hujan, jalan jadi seperti kubangan. Banyak warga yang jatuh dari motor,” ujarnya saat dihubungi kantor berita Sekitarkita.id, Sabtu (31/05/2025).
Lebih lanjut, Yayat menyebut bahwa kerusakan jalan yang dipenuhi lubang besar, batu lepas, hingga genangan air saat hujan sudah sering diusulkan untuk diperbaiki melalui Musrenbang. Namun hingga kini, tak satu pun upaya perbaikan dilakukan oleh Pemkab Bandung Barat.
Warga Tanam Pohon Pisang dan Talas sebagai Protes
Dikatakan dia, sebagai bentuk kekecewaan, warga dari lima desa tersebut sempat melakukan aksi simbolis dengan menanam pohon pisang dan talas di tengah jalan berlubang pada malam sebelumnya.
Aksi protes ini, kata Yayat, menjadi sindiran keras bagi para pejabat yang dianggap tidak peduli terhadap kondisi infrastruktur di wilayah mereka.
Namun karena jalur ini merupakan satu-satunya akses utama bagi warga, terutama saat pasar tumpah Ranca Panggung berlangsung setiap hari Sabtu, warga akhirnya terpaksa mencabut pohon-pohon tersebut agar kendaraan bisa tetap melintas.
“Kami paham kenapa warga menanam pohon pisang, itu bentuk keputusasaan. Tapi jalan ini akses hidup kami, jadi mau tidak mau pohon itu harus disingkirkan,” tegas Yayat Ruhiyat.
Jalan poros yang dimulai dari Peusing Sindangkerta dan melintasi lima desa tersebut sangat krusial karena sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai petani.
Kerusakan jalan secara langsung memengaruhi distribusi hasil pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat desa.
“Kalau dibiarkan terus, ini bisa berdampak pada keterisolasian wilayah dan memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat,” tambah Yayat.
Masyarakat dari lima desa mendesak agar pemerintah Kabupaten Bandung Barat segera turun tangan dan memperbaiki jalan poros tersebut.
Jika tidak ada tindakan segera, warga khawatir dampaknya akan semakin meluas dan membahayakan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.
“Kami tidak butuh janji, kami butuh aksi nyata dari pemerintah,” pungkas Yayat.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








