| TPT warga kampung Cidahu, RT05/RW01, Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah KBB kembali jebol (foto: Abdul Kholilulloh). |
Bandung Barat, SekitarKita.net,- Empat (4) tahun sudah, Nunung Sutarni warga asal kampung Cidahu, RT05/RW01, Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hidup dibayang-bayangi ancaman longsor susulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ancaman tersebut, berawal dari Tembok Penahan Tanah (TPT) yang berada di sisi rumah miliknya pada tahun 2018 lalu, perlahan terkikis derasnya air sungai.
Setiap musim penghujan turun, kegelisahan ia semakin menjadi, mengingat volume air sungai meningkat cukup drastis.
| Dua rumah terancam ambruk akibat TPT terkikis, kondisi ini sejak 2018 dan sempat diperbaiki namun kembali jebol (foto: Abdul Kholilulloh) |
Saluran drainase yang buruk menjadi pemicu awal penyebab longsor serta tumpukan sampah yang menggunung, menjadi tontonan yang memilukan saat hujan tiba.
“Tidur terasa tidak nyenyak selalu terbangun was-was banjir menimpa rumah saya,” katanya saat ditemui SekitarKita sembari membersihkan tumpukan sampah. Selasa 11 Oktober 2022.
Bukan hanya dua rumah miliknya yang terancam, tempat bermain cucunya ikut terancam tatkala hujan mengguyur dan merendam halaman hingga ruangan rumahnya.
| Nunung Sutarni warga asal kampung Cidahu, RT05/RW01, Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah KBB. |
“Saya takut kalau banjir sampai sini, ada cucu dan temen-temen kalau main suka kwartir takut terbawa arus banjir,” jelas ia sembari menahan rasa takutnya.
Dengan nada rendah, Nunung menitihkan cerita peristiwa kelam tanpa jeda, menginjak tahun 2019 banjir menerjang hingga terjadi 4 kali. Genangan air merendam beberapa rumah warga dan sampah berserakan jadi pemandangan memilukan.
“Banyak yang kesini pasca bencana, cuman hanya sekedar foto dokumentasi, saya kan sudah tua tidak tau mereka dari mana,” tuturnya dengan bahasa Sunda.
Ia tak menepis upaya pemerintah daerah setempat untuk memperbaiki TPT yang ambrol kala itu, namun tak bertahan lama kembali jebol.
“Pernah ada bantuan dari pemerintah melalui RT/RW hanya memberikan bata dan besi tapi ga lama jebol lagi dari banjir itu terliahat seperti lautan dan rumah yang deket dengan aliran air itu dampaknya banyak,” cetus Nunung masih dalam bayang-bayang banjir dibenaknya.
Tak hanya berdampak banjir, fasilitas umum ikut hancur dan tembok retak, jembatan jalan roboh sampai keramik- keramik rumahnya ikut hancur.
“Hewan ternak seperti ayam semua ikut hanyut dan rumah saya retak pokoknya hancur kang, warga sekitar berinisiatif untuk benerin jalan dan benteng sendiri tanpa ada bantuwan dari pemerintah Bandung Barat hingga sekarang tahun 2022 belum ada lagi,” bebernya.
| Sisa material longsor dan tumpukan sampah belum diperbaiki |
“Harapan dari warga dan saya pribadi, meminta jalan dan drainase perairan air ingin seperti dulu, dan sampah deket jembatan segera di keruk, warga kampung Cikadu khawatir ketika hujan besar datang,” sambungnya.
Sementara itu, menanggapi hal ini, Kasi Kesra, Desa Tanimulya, Nandang Puryana mengatakan, benar peristiwa longsor itu terjadi, jika dilihat data tahun 2018 akibat banjir di mana debit air yang cukup deras tidak bisa tertahan oleh TPT tersebut.
| Kasi Kesra, Desa Tanimulya, Nandang Puryana |
“Benar memang dulu tahun 2018 ada bencana longsor di kampung Cidahu, namun berhubung lokasinya berada di perbatasan antara Tanimulya dan Cimahi, otomatis kita hanya memperbaiki yang masuk ke wilayah Tanimulya saja dan itu pun memang belum maksimal pekerjaannya,” katanya saat disambangi di Kantor Desa Tanimulya.
Disinggung terkait dana bantuan anggaran dari Pemerintah Kota Cimahi di tahun 2018 yang di duga di tolak oleh Desa Tanimulya, pihaknya membantah tudingan tersebut.
“Belum pernah ada laporan bahwa ada dana dari Pemkot Cimahi, kalau pun ada laporan kita pasti berkerja sama untuk memperbaikinya, kita juga pasti mengeluarkan anggaran jadi maksimal pengerjaannya, memang cukup menghawatirkan kondisi rumah tersebut,” ungkap Nandang kembali
Ia menyebut, aliran sungai yang cukup deras dari arah utara sungai Cikahuripan di tambah tumpukan sampah yang menghambat drainase, otomatis TPT tidak bisa menahan luapan air yang cukup besar dan sampah yang menumpuk.
Camat Ngamprah, Agnes Virganty menanggapi adanya keluhan dari warga terkait musibah longsor di kampung Cidahu tahun 2018 yang sempat terhambat, pihaknya terus melakukan pendataan untuk memastikan lokasi.
“Kalau pun ada, sudah menjadi tugas saya untuk menugaskan aparatur kecamatan untuk memastikan bahwa di sebelas Desa yang ada di kecamatan ini harus terkontrol kondisi rumah warga yang terancam longsor,” ujar Agnes yang menjabat menjadi Camat Ngamprah belum lama ini.
Ia menghimbau, di kondisi musim penghujan ini perubahan cuaca bulan Oktober sampai Desember masyarakat harus benar-benar pintar tanggap mencegah terjadinya bencana dengan menerapkannya 3R, memilah, memisah dan mengolah.
| Camat Ngamprah, Agnes Virganty |
“Karena untuk titik rawan yang berpotensi banjir terletak di wilayah Mekarsari, Margajaya, Tanimulya dan sekitarnya, jadi semua harus bisa berkordinasi dengan baik untuk mencegah musibah yang tidak di inginkan,” tuturnya.
Kendati demikian, untuk kedepannya kepemerintahan, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan dari RT/RW, Desa sampai ke tingkat Kecamatan harus terus berkordinasi dan terhubung terkait masalah kesejahteraan masyarakat.
“Sehingga kita senantiasa memberi solusinya seperti apa, hanya saja memang sekarang terbentur porsi dana Desa, namun demikian kami tetap senantiasa mengawal untuk memprioritaskan kepentingan warga,” pungkasnya.
Penulis: Tina
Reporter: Yuda Permana
Editor: Abdul Kholilulloh








