[ad_1]
Selain semua hal baik, menikah berarti menerima konflik. Pertengkaran adalah bagian customary dan sehat dalam hubungan apa pun. Konflik membantu kita tumbuh bersama dan sebagai individu. Tetapi berjuang secara adil tidak semudah yang Anda bayangkan.
Inti dari sebuah pertarungan bukanlah untuk memenangkan apapun, bukan untuk dapatkan pembenaran, atau untuk melampiaskan kekesalanmu pada orang lain. Inti dari pertarungan adalah untuk hingga solusi yang saling memuaskan terhadap suatu masalah. Meski demikian tidak selalu terasa seperti itu, Anda berdua berada di tim yang sama, dan sebaiknya Anda menyelesaikannya. Di akhir pertarungan yang bagus, Anda berdua akan menang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut lima aturan dasar yang sangat dibutuhkan setiap pasangan saat pertengkaran memanas:
1. Tetap berkelas
Artinya, tidak boleh mengumpat, menggigit, menendang tembok, melempar lampu, atau (tentu saja) tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga dalam bentuk apa pun. Ketika Anda tidak dapat menyampaikan seberapa besar gairah yang Anda rasakan, Anda akan mudah untuk melontarkan kata-kata kasar, namun bahasa seperti ini tidak akan membantu menghasilkan resolusi.
Dengan catatan yang sama, jangan pernah mencoba mengakhiri konflik saat Anda sedang mabuk berat. Ambillah dari saya, bahkan ketika Anda menangis dan emosional, tidur siang dan mulai pertengkaran ketika Anda berdua sadar.
Selain itu, jauhkan dari teras depan (atau di jalan, di depan tamu makan malam, di konferensi orang tua/guru anak Anda). Pertarungan harus segera dilakukan secara pribadi, dan hanya melibatkan Anda dan pasangan Anda… bukan perkumpulan orang-orang yang tidak bertanggung jawab atau seluruh keluarga Anda.
2. Tinggalkan orang tuamu dari hubungan tersebut
Drazen Zigic / Shutterstock
Terlalu mudah untuk menyampaikan sesuatu seperti, “Kamu seperti ayahmu, yang selalu melakukan bla bla bla.” Anda sengaja membuat kesalahan, dan ketika Anda membuat pasangan Anda bersikap defensif, mereka tidak akan dengan mudah bisa mendengarkan sudut pandang Anda.
Selain itu, jangan ajak teman Anda ikut serta dalam percakapan. “Temanku Lucy selalu berkata bahwa aku tidak seharusnya menikahimu…” Andai Lucy bukan bagian dari hubungan kalian, maka dia tidak seharusnya ikut campur dalam resolusi konflik kalian.
Dinamika mertua yang negatif bisa meningkatkan stres dan risiko perceraian. Kurangnya diferensiasi bisa dikarenakan triangulasi, yaitu melibatkan pihak ketiga dalam konflik pasangan. Observasi memperlihatkan dinamika ini merusak hubungan pasangan sebab merusak batasan dan berdampak pada dukungan emosional timbal balik.
3. Jangan menyindir
“Oh ya, kamu benar-benar tahu bagaimana caranya tiba di suatu tempat tepat waktu. Mereka seharusnya memanggilmu Flava Flav dengan jam bawaan yang kamu miliki.”
Sarkasme adalah cara untuk meremehkan seseorang. Tak ada cara bagi pasangan Anda untuk terus membicarakan masalah yang ada andai balasan Anda berisi kata-kata sinis atau komentar seperti “Terserah”.
Selain itu, jangan mulai berdebat tentang detailnya. Seperti andai pasangan Anda berkata, “Kamu terlambat 20 menit untuk menjemputku!” sungguh konyol untuk kembali dengan “Nyatanya, saya hanya terlambat 17 menit, terima kasih sejumlah besar!”
Pikirkan segala sesuatu dalam percakapan sebagai cara untuk hingga kesimpulan. Balasan sarkastik dan terlalu spesifik mengenai detailnya hanyalah cara untuk menghindari pembicaraan berlanjut.
Peneliti hubungan telah menemukan bahwa perilaku menghina sangat merusak hubungan. Hal ini sebab ketika pasangannya mendapat komentar sarkastik, mereka cenderung bersikap defensif daripada terlibat dalam percakapan yang produktif. Hal ini menghambat kemajuan dan bisa meningkatkan konflik lebih lanjut.
4. Hindari penggunaan label
Studio Romantis / Shutterstock
Hindari memberi tahu pasangan Anda bahwa dia neurotik, depresi, membosankan, bodoh, atau pecundang. Perhatikan bahwa saya memberi tahu suami saya pagi ini bahwa dia “menjadi” brengsek. Itu berbeda dengan menyampaikan bahwa seseorang “adalah” orang yang brengsek. “Menjadi” orang brengsek adalah sesuatu yang bukan keadaan mereka yang konstan; itu hanya keadaan yang tidak biasa.
Suamiku dapat saja dengan mudah menyampaikan kepadaku, “Kamu kelihatannya rewel hari ini, dan kamu bertingkah seperti orang gila,” dan dia mungkin saja benar. Tapi kalau dia bilang aku gila, itu tidak sopan.
Pasangan harus segera menghindari penggunaan label sepanjang pertengkaran sebab bisa mengikis kepercayaan, meningkatkan konflik, dan mengalihkan fokus dari mengakhiri perilaku tertentu menjadi menyerang karakter pasangan. Sebuah studi pada tahun 2022 menjelaskan bahwa pemanggilan nama baik menimbulkan rasa tidak hormat, kerugian emosional, dan dinamika defensif yang kontraproduktif dalam mengakhiri masalah yang ada.
5. Jangan pernah mengungkit ujar 'D'
Andai tak ada yang lain, agar dapat diingat aturan ini. Ketika tingkat kemarahan meningkat dan emosi hingga titik didih, sangat mudah untuk berpikir di kepala Anda, “Mengapa saya menikah dengan orang ini?”
Tetapi jangan pernah, dalam keadaan apapun, Anda mengucapkan ujar “cerai” di depan suami atau istri Anda. Mengancam untuk keluar dari pernikahan Anda merupakan tindakan yang sangat manipulatif, dan juga dengan cepat meningkatkan pertengkaran menjadi situasi yang membutuhkan konselor pasangan yang baik.
Mengungkit perceraian juga menciptakan suasana ketidakpercayaan dan bisa dikarenakan kecemasan akan pengabaian. Tidak mudah pulih kepercayaan setelahnya, dan yang terpenting, hal tersebut tentu tidak akan mengakhiri masalah yang ada. Anda mungkin saja merasa menang saat membuat pasangan mematuhi tuntutan Anda, tetapi Anda akan kalah dalam pernikahan.
Meredith Craig de Pietro adalah seorang penulis dan reporter dengan gelar jurnalisme dan tradisi populer dari NYU. Fiksinya telah muncul di Fictive Dream, Selection Pack, Complete Residence, Literary, Stanchion Magazine, Invisible Town, Scribble, Sierra Nevada Evaluate, Backchannels, dan Rock Salt Magazine.
[ad_2]
Sumber: yourtango








