SEKITARKITA.id- Yayasan Disabilitas Produktif dan Mandiri (Disproman) Indonesia resmi menutup pelatihan barista untuk penyandang disabilitas yang berlangsung selama 23 hari.
Acara penutupan tersebut diadakan di Gedung Balai Rakyat Pemda, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, pada Jumat (20/9/2024), sekaligus pemberian sertifikat kepada 16 peserta disabilitas yang berhasil menyelesaikan pelatihan tersebut.
Acara ini dimulai pada pukul 10.00 WIB dan turut dihadiri oleh perwakilan dari Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktifitas (BBPVP) Bandung, Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rani Mei Lestari, pendiri Yayasan Disproman Indonesia sekaligus Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Bekasi, secara langsung menyerahkan sertifikat bentuk penghargaan kepada para peserta.
“Mereka telah mengikuti pelatihan dengan baik bersama instruktur Muhammad Zidan Atabik, yang dilaksanakan di dua kafe,” ungkap Rani dalam sambutannya.
Pelatihan barista ini diikuti oleh 16 peserta penyandang disabilitas serta 4 pendamping, yang berlangsung sejak dibuka pada 19 Agustus 2024. Kegiatan ini didukung oleh BBPVP Bandung dan Kemenaker RI.
“Terima kasih kepada BBPVP Bandung, Kemenaker RI, serta Muhammad Zidan Atabik selaku pemilik Zifa Coffee yang telah mendukung dan mensponsori kegiatan ini,” lanjut Rani.
Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), terutama di kalangan penyandang disabilitas.
Dengan keterampilan yang diperoleh, mereka diharapkan dapat bekerja di berbagai sektor seperti restoran, kafe, hotel, atau bahkan membuka usaha mandiri.
“Dengan keterampilan ini, mereka siap bekerja dan meningkatkan perekonomian mereka,” tambah Rani.
Rani juga mengungkapkan visi besar Disproman untuk membuka peluang usaha kafe atau coffee shop yang dimiliki dan dikelola oleh penyandang disabilitas.
“Tujuan utamanya adalah agar penyandang disabilitas dapat memiliki dan menjalankan usaha mereka sendiri,” tutupnya.
Pelatihan barista ini melibatkan penyandang disabilitas dari berbagai kategori, termasuk disabilitas fisik, sensorik pendengaran, sensorik penglihatan, down syndrome, serta disabilitas mental.
Pelatihan dilaksanakan di dua kafe, yaitu Tempo Coffee dan Zifa Coffee, dengan harapan dapat membuka lebih banyak peluang kerja dan usaha bagi penyandang disabilitas di masa depan.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Laporan: Jeje








