SEKITARKITA.id – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat (KBB), Dadan Supardan, menyatakan dukungan penuh terhadap program Rereongan Poe Ibu yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Program ini dinilai sebagai gerakan sosial berbasis gotong royong untuk memperkuat solidaritas masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan darurat.
Dukungan tersebut disampaikan Dadan usai menghadiri reses Anggota Komisi IV DPR RI, Dadang M. Naser, di Kampung Bungur, RT 02/RW 22, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, KBB, pada Ahad (12/10/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dadan, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar KBB, menjelaskan bahwa DPRD Bandung Barat telah membahas program ini sebagai bagian dari ajakan gotong royong dari Gubernur Jawa Barat.
“Program ini sangat positif karena mengajak seluruh warga, ASN, pelajar, dan pengusaha untuk berempati dan ikut serta membangun wilayahnya masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan program Rereongan Poe Ibu bergantung pada keikhlasan pribadi dan pengelolaan yang transparan.
“Tidak perlu dipersoalkan. Kalau masyarakat ridho dan ikhlas, tinggal dilaksanakan dan dikoordinir oleh tim yang bertanggung jawab,” tegas Dadan.
Dadan mencontohkan bahwa konsep serupa sebenarnya sudah lama berjalan di desanya.
“Dulu setiap hari Jumat, Karang Taruna, DKM, dan organisasi keagamaan mengumpulkan dana untuk membantu pembangunan lingkungan, korban kebakaran, longsor, jembatan, jalan, bahkan santunan warga sakit atau meninggal,” katanya.
Menurutnya, model gotong royong seperti ini efektif mengatasi kebutuhan mendesak tanpa menunggu anggaran pemerintah.
“Tanpa harus menunggu anggaran pemerintah, anggaran itu bisa digunakan termasuk beberapa kegiatan misalkan membangun jembatan dan jalan lingkungan,” ujarnya.
“Anggaran itu bisa digunakan misalkan untuk warga yang terdampak bencana longsor, anggaran itu bisa menjadi anggaran tak terduga bisa juga digunakan untuk warga yang sakit kebutuhan lainnya termasuk santunan kematian,” sambungnya.
Apa Itu Gerakan Rereongan Poe Ibu?
Rereongan Poe Ibu (Sapoe Sarebu) adalah gerakan donasi Rp1.000 per hari dari masyarakat Jawa Barat untuk membantu sektor pendidikan dan kesehatan, terutama bagi warga yang mengalami keterbatasan akses dan ekonomi.
Program ini merujuk pada PP No. 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial dan diluncurkan melalui Surat Edaran Gubernur sejak 1 Oktober 2025.
Dalam Surat Edaran tersebut tertulis bahwa program ini berbasis gotong royong dan kearifan lokal berupa prinsip silih asah, silih asih, dan silih asuh. Transparansi melalui Sapawarga dan media sosial, pengelolaan dana oleh pengelola setempat (RT/RW, desa, sekolah, instansi)
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesetiakawanan sosial sekaligus memperkuat pemenuhan hak dasar masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi mereka yang masih menghadapi keterbatasan anggaran dan akses.
“Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menginisiasi program partisipatif Gerakan Rereongan Sapoe Sarebu (Poe Ibu) yang berlandaskan gotong royong, serta kearifan lokal silih asah, silih asih, dan silih asuh,” seperti keterangan dalam surat edaran tersebut dikutip Sekitarkita.id, Minggu (5/10).
8 Fakta Penting Program Rereongan Poe Ibu
1. Program berbasis gotong royong dan kearifan lokal
2. Donasi Rp1.000 per hari dari ASN, pelajar, masyarakat
3. Dana digunakan untuk pendidikan dan kesehatan
4. Bisa dipakai untuk situasi darurat (bencana, kebakaran, warga sakit)
5. SE ditujukan ke pemerintah, swasta, sekolah, desa, RT/RW
6. Pengelolaan dana melalui rekening khusus dan pelaporan transparan
7. Monitoring oleh perangkat daerah hingga kepala desa
8. Hashtag khusus dan pelaporan via Sapawarga
Pemkab Bandung Barat Siapkan Teknis Pelaksanaan
Sebelumnya, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail juga menyatakan dukungan terhadap program ini.
“Gerakan ini membuktikan bahwa nilai-nilai solidaritas sosial masih hidup di masyarakat,” kata Jeje.
Jeje memastikan program ini bersifat sukarela dan tidak ada paksaan. Ia bahkan membuka opsi penerapan awal bagi ASN Pemkab Bandung Barat.
“Apakah pakai pola kencleng harian atau mingguan, teknisnya akan kita siapkan,” ujarnya.
Meski sempat menuai pro dan kontra, dukungan terhadap Gerakan Poe Ibu terus mengalir dari tingkat desa hingga pemerintah daerah.
Program ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada anggaran pemerintah, meningkatkan kepedulian antarwarga, menguatkan kearifan lokal, membantu masyarakat dalam situasi darurat
Baik DPRD KBB maupun Pemkab Bandung Barat berharap program ini dijalankan secara transparan, akuntabel, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








