SEKITARKITA.id– Sungai Citarum kembali menjadi sorotan tajam setelah Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dadang M. Naser, melayangkan kritik keras terhadap kinerja Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.
Dalam kunjungan reses di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu 11 Juni 2025, Dadang menilai BBWS terlalu sering menggunakan dalih kekurangan anggaran sebagai alasan atas buruknya kondisi Sungai Citarum.
“BBWS jangan terus-terusan beralasan kurang anggaran. Kalau memang anggaran kurang, tetap harus ada kerja nyata bersama rakyat,” tegas Dadang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mantan Bupati Bandung dua periode ini juga menyoroti masalah eceng gondok dan sampah yang semakin mengotori Sungai Citarum.
Ia mengakui bahwa masyarakat memang turut andil dalam membuang sampah ke sungai, namun tanggung jawab utama tetap berada di tangan BBWS Citarum.
“Rakyat memang buang sampah, tapi kalau soal eceng gondok, itu tanggung jawab BBWS. Mereka harus bisa menggandeng masyarakat untuk menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.
Dadang Dorong Aktifkan Kembali Satgas Citarum Harum
Untuk mengatasi persoalan klasik Sungai Citarum yang tak kunjung tuntas, Dadang M. Naser mengusulkan agar konsep Satgas Citarum Harum kembali dihidupkan.
Ia menyebut, Satgas yang dulu dibentuk bersama almarhum Letjen Doni Monardo dinilainya sebagai salah satu langkah konkret dalam menciptakan kolaborasi lintas sektor.
“Konsep Citarum Harum dulu itu berhasil. Jangan ego sektoral, semua pihak harus turun tangan, pemerintah, TNI, akademisi, swasta, hingga masyarakat,” jelasnya.
Dadang juga menekankan pentingnya keterlibatan TNI dalam Satgas Citarum Harum, seperti halnya peran militer di sejumlah negara lain dalam urusan penataan lingkungan.
“TNI jangan hanya di bidang pangan, tapi juga harus ikut turun di sektor lingkungan. Mereka punya kemampuan eksekusi di lapangan,” ujar Dadang.
Pernyataan tegas Dadang ini menjadi peringatan serius bagi BBWS Citarum dan pemangku kepentingan lingkungan lainnya. Di tengah persoalan sedimentasi, ledakan gulma air, dan pencemaran air Sungai Citarum, pendekatan kolaboratif menjadi kebutuhan mendesak.
Dadang menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa Sungai Citarum bukan sekadar urusan teknis, tetapi soal komitmen kolektif.
“Jika tidak segera ditangani secara serius dan sistematis, bukan tidak mungkin Citarum kembali menyandang predikat sebagai salah satu sungai terkotor di dunia,” tandasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








