SEKITARKITA.id – Beginilah kondisi memprihatinkan dua ruang kelas di SD Negeri Margalaksana, Desa Kertamukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang mengalami kerusakan parah hingga ambruk.
Akibat kejadian tersebut, kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah dasar negeri tersebut terpaksa terganggu.
Sejumlah siswa dari beberapa kelas kini harus belajar secara bergantian dan digabung dalam satu ruangan, karena hanya tersisa dua ruang kelas yang masih bisa digunakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pantauan di lokasi menunjukkan, atap bangunan dua ruang kelas yang ambruk itu kini hanya menyisakan tembok retak dan tumpukan puing-puing.
Sisa reruntuhan bangunan tampak mengenaskan, dengan lantai dipenuhi serpihan genting dan kayu lapuk.
Di sekitarnya, semak belukar tumbuh liar, menutupi area yang dulunya menjadi tempat anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Akibat keterbatasan ruang, puluhan murid dari kelas satu hingga kelas empat kini harus belajar bersama di dua ruangan tersisa.
Suasana belajar pun jauh dari kata ideal, karena guru harus membagi perhatian untuk dua tingkat kelas sekaligus.
Salah seorang wali murid, sebut saja Mawar (bukan nama sebenarnya), berharap agar pemerintah daerah segera turun tangan memperbaiki kondisi tersebut.
“Pak Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, sudah turun langsung melihat kondisi bangunan yang rusak. Kami berharap pembangunan ruang kelas baru (RKB) dan toilet sekolah bisa segera direalisasikan,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Margalaksana, Pupung, mengungkapkan bahwa dua ruang kelas yang ambruk itu sebenarnya sudah rusak sejak tahun 2018.
Pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan proposal perbaikan ke Dinas Pendidikan (Disdik) KBB, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
“Dua bangunan itu sudah rusak sekitar lima tahun. Kami sudah ajukan berulang kali ke Disdik, tapi belum ada realisasi,” tutur Pupung di ruang kerjanya.
Menurut Pupung, Bupati Bandung Barat dan jajaran Disdik KBB sempat meninjau langsung lokasi dua bulan lalu dan menyampaikan akan segera dilakukan perbaikan. Namun, hingga kini belum terlihat adanya progres pembangunan.
“Pak Bupati dan Disdik memang sudah meninjau. Waktu itu bilang akan segera direnovasi, tapi sampai sekarang belum terealisasi,” tambahnya.
Dengan kondisi yang serba terbatas, pihak sekolah terpaksa menggabungkan kegiatan belajar dua kelas dalam satu ruangan.
“Kelas satu dan dua digabung, begitu juga kelas tiga dan empat. Tentu ini kurang efektif, tapi kami tidak punya pilihan lain,” jelas Pupung.
Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Pemkab Bandung Barat, bisa segera merealisasikan pembangunan ruang kelas baru dan fasilitas pendukung lainnya, agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan normal kembali.
“Kami dan masyarakat sangat berharap ruang kelas baru bisa segera dibangun, termasuk toilet sekolah dan fasilitas lainnya,” pungkasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








