[ad_1]
Andai Anda telah berpacaran dengan seseorang untuk beberapa lama, Anda pasti pernah merasakan beberapa pertengkaran di sana-sini. Cara Anda menangani pertengkaran tersebut penting.
Berapa orang bisa membicarakan masalah dan menemukan solusi. Tetapi, yang lain justru melarikan diri dari masalah hubungan. Mereka tidak melakukan ini sebab mereka pengecut. Mereka mungkin saja berpikir bahwa mereka melakukan hal yang benar untuk hubungan tersebut. Tetapi, menjaga kedamaian atau bersikap baik bukanlah hal yang baik ketika seluruh hubungan pada akhirnya hancur sebab masalah yang belum terselesaikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut adalah kesalahan besar yang dilakukan orang ketika hubungan menjadi sulit, menurut seorang terapis:
1. Saat keadaan makin sulit, mereka kabur.
Andai Anda termasuk orang yang cenderung melarikan diri dari hubungan saat keadaan sulit, Anda tidak sendirian. Tetapi, berikut ini pengingat dari Dr. Aria Campbell Danesh tentang mengapa penting untuk tidak melarikan diri saat menghadapi kesulitan dalam hubungan.
“Andai Anda merasa ingin menghentikan sesuatu saat konflik muncul, dengarkan saya,” tutur Danesh memulai.
2. Mereka tidak menyadari konflik terjadi dalam setiap hubungan.
“Konflik merupakan bagian yang tak terelakkan dari hubungan apa pun dan jarang menyangkut masalah yang tampak di permukaan.”
Realitanya, konflik itu mempunyai masalah yang berakar dalam, yang berakar pada perasaan yang tidak terungkap, batasan yang lemah, atau luka lama yang tidak pernah memulihkan.
“Andai Anda melarikan diri dari hubungan tanpa terlebih dahulu menyadari apa yang perlu Anda perbaiki dan kemudian memperbaikinya, Anda hanya akan membawa versi diri Anda ini ke dalam hubungan berikutnya,” jelas Danesh.
3. Mereka tidak tahu bahwa melarikan diri hanya akan memperparah masalah.
Bila ini terjadi, konflik tidak akan pernah berakhir sebab masalah tidak pernah terselesaikan. Bisa dimengerti, lihat ke dalam diri sendiri adalah pekerjaan yang sulit. Pada kenyataannya, dibutuhkan keberanian dan kerentanan untuk mencapai ke sana. Tetapi, ini bukanlah hal yang buruk.
Danesh berkata, “Masa-masa tersulit yang kalian lalui bersama nyatanya mempunyai potensi untuk mengubah hubungan kalian dengan diri kalian sendiri dan satu sama lain.”
Tetapi, bagaimana kita lihat ke dalam diri dan mengatasi trauma kita? Apa yang seharusnya kita harapkan? Konselor berlisensi Gregory L. Jantz menyelami proses penyembuhan dari trauma masa lalu, membandingkannya dengan tahap-tahap kesedihan, sebagaimana dibuktikan dalam analisis perbandingan tahun 1998.
Berikut adalah contoh bagaimana seseorang bisa mengatasi trauma melalui tahap kesedihan.
Berikut ini adalah cara memahami tahap kesedihan yang bisa membantu Anda bertahan dan mengatasi masalah hubungan:
1. Kenali saat penyangkalan merayap ke dalam hidup Anda sehari-hari.
Merasakan trauma bisa dikarenakan naluri bertahan hidup kita muncul dan sebab itu, kita merasakan fase penyangkalan.
Fase ini merupakan cara tubuh kita melindungi diri dari bahaya lebih lanjut. Dan meski demikian penting untuk melindungi kesehatan emosional Anda setelah trauma, harus diingat bahwa memendam sesuatu bukanlah jawabannya.
2. Pahami bagaimana Anda memakai tawar-menawar.
Jantz menulis, “Tahapan kesedihan ini mungkin saja ditandai oleh pikiran terus-menerus tentang apa yang dapat dilakukan untuk mencegah kehilangan atau trauma.”
Observasi yang dilakukan pada tahun 2021 memperlihatkan bahwa andai Anda pernah merasakan trauma masa kanak-kanak, pikiran-pikiran ini bisa melekat sepanjang bertahun-tahun. Dan meski demikian ini adalah bagian customary dari patah hati, terlalu terpaku pada kemungkinan-kemungkinan hanya akan menghambat bolak-balik penyembuhan Anda.
Kenyataanya adalah, hanya minim yang bisa Anda lakukan untuk mengubah situasi — bahkan andai Anda mencobanya.
3. Bersiaplah menghadapi titik terendah dalam emosi.
Saat kita melalui tahap-tahap kesedihan, kita segera akan dihadapkan pada tahap-tahap emosional. Sepanjang tahapan ini, Anda akan hingga titik terendah, menyadari trauma yang telah Anda alami.
Terlebih lagi, Anda akan hingga tahapan kemarahan dengan cukup cepat. Dan sepanjang tahapan ini, Anda akan mulai merasa tidak berdaya dan terjebak dalam trauma Anda.
Jadi, pastikan untuk dapat mencari konseling profesional sepanjang tahapan ini dan temukan cara yang sehat untuk memilah emosi Anda. Ingat, menulis jurnal atau meditasi bisa sangat membantu.
4. Carilah cara untuk bergerak menuju penerimaan.
Ketika kita mencapai pada tahapan penerimaan, kita bisa mengakui apa yang sedang terjadi pada kita. Kita juga mampu memahami bahwa apa yang kita alami tidaklah baik dan tidak adil.
Tetapi, pengakuan ini tidak mengatur hidup Anda. Sepanjang tahapan penerimaan, Anda menerima apa yang telah terjadi dan tidak membiarkan trauma masa lalu mengatur kehidupan Anda sementara. Anda bebas menjadi diri sendiri dan melupakan rasa sakit dan penderitaan yang telah Anda alami.
Marielisa Reyes adalah seorang penulis dengan gelar sarjana psikologi yang membahas topik-topik pengembangan diri, hubungan, karier, dan keluarga.
[ad_2]
Sumber: yourtango








