Sekitar Kita.ID – Kondisi kikisan longsoran Tembok Penahan Tanah (TPT) di Jalan GA Manulang, Rancabali Atlas RT 04/05, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), semakin memprihatinkan. Longsoran ini mengancam dua rumah warga serta jembatan penghubung desa.
Pantauan di lokasi, pada Jumat, 24 Januari 2025, longsoran yang menggerus TPT sungai Sub DAS Cihaur Padalarang tampak semakin mendekati bangunan rumah milik Diah Indrawati (54). Jarak antara longsoran dengan rumah hanya sekitar lima jengkal.
Perabotan rumah tangga dan barang-barang milik Diah telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Aparatur desa setempat, dibantu BPBD KBB dan warga, menutup area longsor menggunakan terpal biru sebagai langkah sementara untuk mencegah longsoran semakin meluas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyebab Longsoran
Longsor ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak Selasa, 8 Januari 2025. Selain itu, tumpukan sampah liar yang menyumbat aliran sungai menjadi salah satu faktor utama kerusakan TPT.
Camat Padalarang, Agus Achmad Setiawan, menjelaskan, sampah liar menyumbat aliran sungai dan menyebabkan menggenang air sehingga TPT terkikis dan ambruk.
“Kami sudah dua kali membersihkan sampah ini bersama komunitas sosial, Pusdikav TNI, dan Sub DAS Cihaur pada tahun 2023, namun masalah ini terus berulang,” kata Agus Kamis 23 Januari 2024.
Agus menyatakan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Pj Bupati Bandung Barat, Ade Zakir, untuk penanganan darurat.
“Saat ini kami memasang terpal bersama tim Desa Tanggap Bencana (DESTANA) di bawah BPBD KBB. Ini langkah awal sambil menunggu proses perbaikan anggaran,” ujar Agus.
Namun, ia mengakui lambatnya penanganannya disebabkan oleh perlunya koordinasi lintas pihak, termasuk dengan Sub DAS Cihaur.
Agus juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang sampah sembarangan.
Sementara itu, pemilik rumah, Diah Indrawati, mengaku was-was setiap kali hujan turun.
“Longsoran ini sudah tiga kali terjadi. Pertama saya perbaiki sendiri, habis ratusan juta. Diperbaiki oleh pemerintah desa, tapi Kedua kualitasnya kurang bagus. Sekarang longsoran semakin parah dan hanya berjarak sekitar 5 cm dari rumah saya,” ungkap Diah.
Akses jalan warga juga terganggunya akibat longsoran ini. Jalur menuju kantor Desa Padalarang kini hanya bisa dilalui oleh sepeda motor, sementara kendaraan roda empat harus mencari rute alternatif.
Diah berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki TPT agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk.
“Semoga segera diperbaiki. Kami takut jika longsor terjadi lagi, rumah ini bisa ambruk,” harapnya.
Saat ini, pemerintah desa dan kecamatan masih menunggu persetujuan anggaran untuk perbaikan TPT permanen.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama di musim hujan, serta ikut berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan agar masalah serupa tidak terulang.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








