SEKITARKITA.id – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan memicu keprihatinan publik.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan KBB, total 161 siswa SMPN 1 Cisarua mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga kejang-kejang setelah menyantap menu MBG pada Selasa (14/10/2025).
Sebanyak 1.250 porsi MBG disajikan hari itu. Sejumlah siswa harus mendapatkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Lembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tim sekitarkita.id menghimpun, gejala mual, pusing, dan muntah mulai dirasakan siswa sekitar pukul 11.00 WIB, beberapa jam setelah makan pada jam istirahat pertama pukul 09.30 WIB.
Suasana sekolah mendadak panik ketika satu per satu siswa tumbang di kelas dan halaman sekolah. Saat dicek di lokasi, ompreng tempat makanan masih menyisakan menu ayam dengan bau menyengat.
Kepala SMPN 1 Cisarua, Agus Solihin, membenarkan adanya insiden keracunan massal.
“Awalnya yang dibawa ke dokter ada sekitar 27 orang, sedangkan yang ditangani di sekolah sekitar 30 siswa. Gejalanya mual, pusing, hingga muntah, dan terus bertambah mencapai ratusan,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, pihak sekolah memberikan air kelapa muda kepada siswa yang mengalami gejala ringan sambil menunggu tim medis datang.
“Menu MBG hari ini ada ayam, sayur, dan buah melon,” tambahnya.
Agus juga menyoroti kondisi ayam yang mencurigakan.
“Daging ayam baunya agak menyengat. Mungkin karena makanan masih panas langsung ditutup, jadi cepat basi. Tapi kita belum tahu pasti,” jelasnya.
Salah satu siswa mengaku gejala muncul usai mengonsumsi ayam kecap, sayur, dan melon.
“Setelah makan, kepala mulai pusing dan mual,” ujarnya dengan wajah pucat.
Beberapa siswa lain juga merasakan hal serupa, terutama setelah makan buah melon. Namun, penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium dari Puskesmas dan Dinkes KBB.
Melihat banyak siswa tumbang bersamaan, petugas TNI dan Polri membantu evakuasi ke Puskesmas serta mengatur lalu lintas di depan sekolah yang sempat macet akibat kedatangan para orang tua.
Suasana sekolah berubah tegang, beberapa orang tua terlihat menangis menunggu kabar anaknya.
Pihak Dinas Kesehatan KBB segera menurunkan tim untuk mengambil sampel makanan MBG dari dapur penyedia dan melakukan uji laboratorium.
“Kami sudah ambil sampel makanan dari dapur penyedia MBG. Hasil uji laboratorium akan segera kami sampaikan,” ujar salah satu petugas Dinkes di lapangan.
Disisi lain, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, langsung datang ke lokasi dan meninjau posko darurat penanganan korban.
Peristiwa ini menambah catatan buruk pelaksanaan program MBG, setelah sebelumnya kasus serupa terjadi di Cipongkor dan Cihampelas.
Padahal, program ini bertujuan meningkatkan gizi siswa, bukan membahayakan kesehatan.
Mengutip data Dinkes, Jeje Ritchie mengungkapkan bahwa I61 siswa mengalami gejala keracunan. Meskipun jumlahnya besar, sebagian siswa sudah membaik dan dipulangkan.
“Saya berharap malam ini kondisi siswa sudah membaik semuanya,” ujarnya.
Jeje menegaskan program MBG adalah program baik, namun pelaksanaannya harus diawasi dan dievaluasi ketat.
“Program ini sangat baik, tetapi kalau tidak dievaluasi dengan tepat, kejadian seperti ini bisa terus terulang,” tegasnya.
Pemkab Bandung Barat akan mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh tahapan program MBG, mulai dari pengadaan bahan, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
“Kedepannya BGN harus melakukan evaluasi lebih mendalam. Apalagi ini sudah kejadian kedua,” kata Jeje.
Demi menjaga keamanan siswa, kegiatan belajar mengajar di SMPN 1 Cisarua sementara dialihkan ke sistem daring (online) hingga kondisi dinyatakan aman.
“Untuk belajar mengajar akan dilakukan secara daring untuk sementara,” tutup Jeje.








