[ad_1]
Bayangkan jika Anda berada di negara yang bahasa lokalnya sepertinya tidak Anda fasih. Bahkan ketika penutur aslinya berbicara dengan lambat, Anda mungkin saja hanya memahami sebagian dari apa yang dibicarakan. Ini mirip dengan bagaimana seseorang dengan afasia mungkin saja terasa setiap hari.
Afasia merupakan gangguan berbahasa yang bisa dampak kemampuan seseorang dalam berbicara, memahami bahasa lisan, membaca, menulis, memakai angka, melakukan perhitungan atau memakai gerak tubuh nonverbal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini terjadi setelah cedera pada otak, paling tak henti-hentinya yaitu stroke. Tetapi, hal ini serta dapat disebabkan oleh cedera otak traumatis, tumor otak, atau kejadian lain yang dampak otak.
Apa saja gejala afasia?
Gejala afasia bisa berkisar dari ringan sampai berat, serta setiap orang merasakan kelemahan komunikasinya masing-masing. Bentuk afasia ringan mungkin saja hanya meliputi kesulitan menemukan kata-kata. Tetapi korban afasia parah bisa kehilangan kemampuan berbicara atau memahami kata-kata lisan serta tulisan.
Salah satu pertanyaan paling umum tentang afasia yaitu, “Kapan kondisi ini akan lebih baik?” Observasi memperlihatkan bahwa sebagian besar pemulihan terjadi dalam empat sampai enam bulan pertama setelah cedera. Tetapi, perbaikan dalam komunikasi bisa berlanjut semasa bertahun-tahun.
Bagaimana cara mengobati afasia?
Seorang mahir patologi bahasa wicara, atau SLP, yang terlatih dalam menangani afasia serta gangguan keterkaitan bisa membantu pemulihan.
Menurut Asosiasi Pendengaran Bahasa Pidato Amerika (ASHA)bukti klinis memperlihatkan bahwa orang yang menerima layanan dari SLP yang memenuhi syarat dapatkan manfaat dalam kualitas serta kuantitas pemulihan bahasa mereka.
Terapi mungkin saja mengkhususkan diri dalam dapatkan kembali kemampuan, strategi untuk mengkompensasi hilangnya komunikasi, atau kombinasi keduanya. Dengan cara tertentu, tujuan utama pengobatan yaitu meningkatkan kualitas serta efisiensi komunikasi.
10 pointers sukses komunikasi
Analysis afasia sepertinya tidak hanya memengaruhi orangnya, namun serta keluarga serta teman-temannya. Saat berkomunikasi dengan orang terkasih yang menderita afasia, menyiapkan mereka untuk sukses sangatlah penting.
Berikut 10 pointers untuk meningkatkan komunikasi dengan korban afasia:
- Terus perlakukan korban afasia sebagai orang dewasa yang matang.
- Kurangi kebisingan latar belakang, seperti radio, TV, serta percakapan lainnya.
- Kurangi gangguan visible, termasuk TV serta orang-orang yang bergerak di sekitar house itu.
- Pastikan Anda dapatkan perhatian orang itu sebelum berbicara dengannya.
- Jaga agar pesan tetap singkat serta sederhana. Bicaralah perlahan tapi alami. Berbicara lebih keras sepertinya tidak meningkatkan pemahaman.
- Gunakan gerak tubuh, isyarat wajah, serta intonasi suara untuk membantu orang itu memahami pesannya, meski demikian dia sepertinya tidak memahami kata-katanya.
- Jangan berasumsi mereka memahami apa yang Anda katakan. Orang yang Anda kasihi mungkin saja merespons dengan anggukan kepala serta suara setuju, namun masih belum memahami apa yang dibicarakan.
- Dorong komunikasi serta bersabarlah.
- Beri orang yang Anda kasihi dalam jumlah besar waktu untuk merespons, serta cobalah untuk sepertinya tidak menjawabnya.
- Sertakan orang itu ketika mereka hadir. Jangan membicarakan mereka seakan-akan mereka tidak ada lagi. Sama seperti Anda sepertinya tidak boleh berasumsi bahwa Anda mengetahuinya, jangan berasumsi bahwa Anda kurang mengetahuinya.
Menjadi lebih baik kemampuan bicara serta bahasa setelah analysis afasia memerlukan waktu serta latihan, jadi berikan dukungan kepada orang yang Anda sayangi, serta tetap santai dan fokus untuk meningkatkan komunikasi bersamaan.
Jody Englert yaitu terapis bahasa wicara di Crimson Wing, Minnesota.
[ad_2]
mayoclinichealthsystem.org








